Dari IPpO

Selasa, 16 Oktober 2012

MAKALAH IMUNISASI POLIO


MAKALAH
IMUNISASI POLIO
Dosen Pengampu : Wilis Sukmaningtyas, S.ST, M.Kes


 




         Disusun oleh:
             Kelas A 
          Kelompok 4


1.      Nur Khoeriyah
2.      Nur Istiqomah
3.      Oktaviana Elsandari
4.      Purwati
5.      Puspita Wulandari
6.      Rifkia Latief Hanief
7.      Riski Amelia Putri
8.      Risti Mayasari
9.      Rizza Umammi Ifada


PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2012



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus-menerus, meyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularan. Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah poliomielitis. Poliomielitis adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari 3 virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3. secara klinis penyakit polio adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis = AFP). 
Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani.

B.     TUJUAN
Adapun tujuan penyusunan makalah ini agar mahasiswa dapat mengetahui tentang pemberian imunisasi polio. Disamping itu juga untuk memenuhi tugas matakuliah “Ilmu Kesehatan Anak”.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    LANDASAN PEMBERIAN IMUNISASI POLIO.
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) adalah Pekan di mana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar.
Dengan pemberian serentak kepada seluruh balita di Indonesia terjadi penekanan serentak terhadap berkembang biaknya virus polio liar apabila masuk ke dalam usus. Di alam bebas, virus akan bertahan hanya selama 48 jam. Oleh karena itu pemberian serentak pada seluruh balita merupakan kunci keberhasilan memutuskan rantai penularan. 
Ada dua hal penting yang digunakan sebagai landasan atau dasar pemberian imunisasi polio:
1.      Vaksinasi polio ini sangat penting agar anak-anak kita tidak tertular virus polio. Virus ini cukup berbahaya. Jika anak terkena sulit untuk diobati. Anak bangsa, khususnya Balita, perlu diupayakan agar terhindar dari penyakit Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi.
2.      Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan belum ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut.
Vaksin polio ada dua jenis yaitu :
a.       Inactivated polio vaccine (IPV= vaksin salk) mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
b.      Oral polio vaccine (OPV= vaksin sabin) mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.


B.     JUMLAH PEMBERIAN.
Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal. Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Ingat, tak ada istilah overdosis dalam imunisasi. Pemberian imunisasi 2 kali dengan interval 1 bulan akan memberikan kekebalan rongga usus selama 100 hari.
C.     USIA PEMBERIAN
Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan.  Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DPT.
D.    CARA PEMBERIAN
Cara pemberian imunisasi polio bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di Indonesia yang digunakan adalah OPV, karena lebih aman. OPV diberikan dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat.
E.     EFEK SAMPING
Hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot.Kasusnya pun sangat jarang.
F.      TINGKAT KEKEBALAN
Dapat mencekal hingga 90%. Pemberian imunisasi polio pada waktu PIN di samping untuk memutus rantai penularan seperti penjelasan di atas, juga berguna sebagai booster atau imunisasi ulangan polio.
G.    KONTRA INDIKASI
Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (diatas 38C), muntah atau diare, penyakit kanker atau keganasan, HIV/AIDS, sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum, serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu.


BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar. Pemberian imunisasi 2 kali dengan interval 1 bulan akan memberikan kekebalan rongga usus selama 100 hari. Dengan pemberian serentak kepada seluruh balita di Indonesia terjadi penekanan serentak terhadap berkembang biaknya virus polio liar apabila masuk ke dalam usus. Di alam bebas, virus akan bertahan hanya selama 48 jam. Oleh karena itu pemberian serentak pada seluruh balita merupakan kunci keberhasilan memutuskan rantai penularan.

B.     SARAN
Bagi mahasiswa kebidanan diharapkan mampu memahami tujuan, cara pemberian dan segala yang ada hubungannya dengan imunisasi polio.  Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dapat membaca pada literatur yang kami gunakan.










DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar