Dari IPpO

Selasa, 02 April 2013

PEMBINAAN KADER


PEMBINAAN KADER



A.    PENGERTIAN 
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sedarhana.
Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fullteng atau partime dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat.

B.     PERAN FUNGSI KADER
Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:
1.         perilaku hidup bersih dan sehat
2.         pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa
3.         upaya penyehatan dilingkungan
4.         peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita
5.         ermasyarakatan keluarga sadar gizi
Kader di tunjukan oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-tugas kader kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya dibeberapa Negara yaitu:
1.            pertolongan pertama pada kecelakaan dan penanganan penyakit yang ringan
2.            melaksanakan pengobatan yang sederhana
3.            pemberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu sebelum dan sesudah melahirkan
4.            menolong persalinan
5.            pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak
6.            memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi
7.            program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan
8.            pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan
9.            melakukan penyuntikan imunisasi
10.        pemberian motivasi KB
11.        membagikan alat-alat KB
12.        pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan,kesehatan perorangan dan kebiasaan sehat secara umum.
13.        pemberian motivasi tentang penyakit menular,pencegahan dan perujukan.
14.        pemberian motivasi tentangperlunya fall up pada penyakit menular dan perlunya memastikan diagnosis.
15.        penenganan penyakit menular.
16.        membantu kegiatan di klinik.
17.        merujuk penderita kepuskesmas atau ke RS
18.        membina kegiatan UKS secara teratur
19.        mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membantu pencatatan dan pelaporan.

C.    PEMBINAAN KADER KESEHATAN  
Pembinaan kader kesehatan merupakan kegiatan dalam rangka mempersiapkan kader kesehatan agar mampu berperan serta dalam mengembangkan pasien kesehatan di desa.
1.      Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan siaga)
Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang peran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :
a.       Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau dokter.
b.      suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
c.       Ibu dan suami menanyakan kebidan atau kedokter kapan perkiraan tanggal persalinan
d.      Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.
Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.
a.       Perdarahan ( hamil muda dan hamil tua)
b.      Bengkan dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang
c.       Demam tinggi
d.      Keluar air ketuban sebeleum waktunya
e.       Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak
f.       Ibu muntah terus dan tidak mau makan
2.      Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas serta rujukan
a.       Tanda-tanda bahaya kehamilan
Pada setiap kehamilan perlu di informasikan kepada ibu, suami dan keluarga tentang timbulnya kemungkinan tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.
Adanya tanda-tanda bahaya mengharuskan ibu, suami / keluarga untuk segera membawah ibu kepelayanan kesehatan / memanggil bidan. Tanda-tanda bahaya kehamilan meliputi :
1)      perdarahan jalan lahir
2)      kejang
3)      sakit kepala yang berlebihan
4)      muka dan tangan bengkak
5)      demam tinggi menggigil / tidak
6)      pucat
7)      sesak nafas
b.      Tanda-tanda kegawatan dalam persalinan
Sebagai akibat dari permasalahan dalam persalinan, kegawatan dalam persalinan dapat terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut :
1)      Perdarahan
2)      Kejang
3)      demam, menggigil, keluar lender dan berbau
4)      persalinan lama
5)      mal presentase
6)      plasenta tidak lahir dalam 30 menit
c.       Kegawatan masa nifas  
Pada masa segera setelah persalinan, kegawatan dapat terjadi baik pada ibu ataupun bayi. Kegawatan yang dapat mengancam keselamatan ibu baru bersalin adalah perdarahan karena sisa plasenta dan kontraksi serta sepsis (demam). Pada bayi yang baru dilahirkan dapat terjadi depresi bayi dan atau trauma.
Bila terjadi kegawatan pada ibu / bayi beri tahu ibu, suami dan keluarga tentang tatalaksanaan yang dikerjakan dan dampak yang dapat ditimbulkan dari tatalaksana tersebut. Serta persiapan tindakan rujukan. Tindakan ini perlu untuk melibatkan ibu, suami dan keluarga sehingga tercapai suatu kerjasama yang baik.
Apabila ibu dan bayi sudah berada dirumah, informasikan kepada ibu, suami dan keluarga bahwa adanya tanda-tanda kegawatan mengharuskan ibu untuk dibawah segera kesarana pelayanan kesehatan atau menghubungi bidan.
Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu. Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu yang perlu diperhatikan meliputi :
1)            perdarahan banyak atau menetap
2)            rasa lelah yang sangat, mata, bibir dan jari pucat
3)            bengkak pada salah satu atau kedua kaki
4)            rasa sakit pada perut berlebihan dan lokia berbau busuk atau berubah warna.
5)            pucat, tangan dan kaki dingin (syok)
6)            tidur turun dratis
7)            kejang
8)            sakit kepala berlebihan / gangguan pandangan
9)            bengkak pada tangan dan muka
10)        peningkatan tekanan darah
11)        buang air kecil sedikit / berkurang dan sakit
12)        tidak mampu menahan BAK / ngompol
13)        demam tanpa atau dengan menggigil
14)        adanya kesedihan yang mendalam, kesulitan dalam tidur, makan dan merawat bayi.
Adanya salah satu tanda kegawatan tersebut mengharuskan ibu mendapatkan pelayanan dari bidan / mencari pertolongan kesarana pelayanan kesehatan.
Pada bayi sebagian besar penyebab kematian adalah karena infeksi, asveksia dan trauma pada bayi. Pengenalan tanda-tanda kegawatan pada bayi perlu untuk dilakukan penatalaksanaan lebih dini yang sesuai yang dapat menurunkan kematian tersebut.
Kegawatan bayi dapat terjadi hari-hari pertama masa nifas dan perlu pertolongan segera ataupun dalam 7 hari pertama masa nifas yang juga memerlukan pertolongan disarana pelayanan kesehatan. Kegawatan bayi beberapa hari setelah persalinan harus segera dibawah kesarana pelayanan kesehatan / hubungi bidan :
1)      bayi sulit bernafas
2)      warna kulit dan mata kuning
3)      pernafasan lebih dari 60 x / menit
4)      kejang
5)      pendarahan
6)      demam
7)      bayi tidur sepanjang malam dan tidak mau menetek sepanjang hari.
8)      tidak dapat menetek (mulut kaku)
Kegawatan bayi 7 hari pertama masa nifas yang membutuhkan perawatan bidan / dibawah kesarana pelyanan kesehatan secepatnya :
1)      hypothermia
2)      pucat / kurang aktif
3)      diare / konstipasi
4)      kesulitan dalam menetek
5)      mata merah dan bengkak / nanah
6)      merah pada tali pusat / tercium bau

d.      Tetanus neonatorum
Tetanus neonatorum adalah penyakit pada bayi baru lahir, disebabkan masuknya kuman tetanus melalui luka tali pusat, akibat pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak bersih, luka tali pusat kotor atau tidak bersih karena diberi bermacam-macam ramuan, atau ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT lengkap sehingga bayi yang dikandungnya tidak kebal terhadap penyakit tetanus neonatorum. Maka perlu dilakukan pembinaan dukun bayi dalam pencegahan tetanus neonatorum, yaitu : Melakukan pertolongan persalinan “3 bersih”.
1)      Sebelum menolong persalinan, tangan penolong disikat dan disabun hingga bersih : BERSIH ALAT.
2)      Alas tempat ibu berbaring harus bersih : BERSIH ALAS.
3)      Gunting dan benang pengikat tali pusat harus steril, bersih, dan tidak berkarat. Supaya steril gunting dan benang direbus dalam air mendidih selama paling sedikit 15 menit pada saat akan dipakai : BERSIH ALAT.  
Melakukan perawatan luka tali pusat yang bersih. Tali pusat dibersihkan setiap pagi dangan air hangat. Luka tali pusat yang telah dibersihkan tidak boleh sama sekali dibubuhi ramuan, jamu, daun-daunan, atau abu dapur. Setelah dibersihkan luka tali pusat ditutup dengan kain kasa kering. Demikian dilakukan terus sampai luka kering dan tali pusat puput.  
Memberi kekebalan kepada bayi baru lahir dengan member imunisasi tetanus toksoid sebanyak 2 kali kepada ibu hamil, calon pengantin,dan anak perempuan kelas 6 sekolah dasar.  
Imunisasi TT bagi calon ibu berguna agar ibu dan bayi mendapat kekebalan terhadap tetanus. Imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali karena imunisasi yang pertama belum member kekebalan pada bayi baru lahir terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang berusia kurang dari 1 bulan dapat terkena tetanus melamui luka tali pusat.
Imunisasi TT umumnya diberrikan kepada ibu hamil, calon pengantin wanita, dan anak perempuan kelas 6 SD.
o   Pada ibu hamil:
TT-1                   : Segera setelah ada tanda-tanda kehamilan.
TT-2                   : Satu bulan setelah TT-1.
o   Pada calon pengantin wanita:
TT-1                  : Pada saat penaftaran nikah.
TT-2                  : Satu bulan setelah TT-1.
o   Anak perempuan kelas 6 SD:
TT                     : Kapan saja selama SD kelas 6.
e.       Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu kepfasilitas rujukan / fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun 10 sampai 15 % diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk kefasilitas kesehatan rujukan. Sangat sulit untuk menduga kapan penyakit akan terjadi sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya kefasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi) menjadi saran bagi keberhasilan upaya penyelamatan, setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk menatalaksana kasus gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir seperti :
1)      pembedahan termasuk bedah sesar
2)      transfuse darah
3)      persalinan menggunakan ekstraksi fakum / cunam
4)      pemberian anti biotik intravena
5)      resusitasi BBL dan asuhan lanjutan BBL
Informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ketempat rujukan dadlah wajib untuk diketahui oleh setiap penolong persalinan jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur yang singkat dan jelas. Jika ibu bersalin / BBL dirujuk ketempat yang tidak sesuai maka mereka akan kehilangan waktu yang sangat berharga untuk menangani penyakit untuk komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal,jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan meminta bekerja sama yang baik dari suami / keluaga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayinya,termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan pada waktu penyulit,seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidaksiapan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan. Masukan persiapan-persiapan dan informasi berikut kedalam rencana rujukan :
1)      siapa yang akan menemani ibu dan BBL
2)      tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
3)      sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya ingat bahwa transportasi harus segera tersedia, baik siang maupun malam.
4)      orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfuse darah diperlukan.
5)      uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
6)      siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak dirumah.
Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal / diawal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk dapat mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya diawal persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan maka sering kali sulit untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan saying ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan BBL.
Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi.
o   B (Bidan) :  
pastikan bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten untuk menatalaksana gawat darurat obstetri dan BBL untuk dibawah kefasilitas rujukan.  
o   A (Alat) :
bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan BBL (tabung suntik, selang iv, alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.
o   K (Keluarga) :  
beri tahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan bayi dan mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alas an dan tujuan merujuk ibu kefasilitas rujukan tersebut. Suami / anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan BBL hingga kefasilitas rujukan.  
o   S (Surat) :
berikan surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan BBL, cantumkan alas an rujukan dan uraikan hasil penyakit, asuhan / obat-obatan yang diterima ibu dan BBL. Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat keputusan klinik.
o   (Obat) :
bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu kefasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin diperlukan selama diperjalanan.
o   K (Kendaraan) :
siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat.  
o   U (Uang) :
ingatkan keluarga agar membawah uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan bayi baru lahir tinggal difasilitas rujukan.
3.      Penyuluhan gzi dan keluarga berencana
a.       Penyuluhan Gizi Ibu Hamil  
Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai dengan usia kehamilan. Berat badan yang bertambah dengan normal, menghasilkan anak yang normal. Kenaikan berat badan ideal pada ibu hamil sebanyak 7 kg (untuk ibu yang gemuk) dan 12,5 kg (untuk ibu yang tidak gemuk). Di luar batas itu, dinilai abnormal.
Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai 2 kg. Kemudian, dinilai normal jika setiap minggu berat badan naik 0,3 kg. Pada kehamilan tua, rata-rata kenaikan berat badan ibu akan mencapai 12 kg. Jika kenaikan berat badan lebih dari normal, akan berisiko meng­alami komplikasi preeklamsia dan janin terlalu besar sehingga menim­bulkan kesulitan persalinan.
Demam tinggi pada masa nifas. Pada masa nifas, selama 42 hari setelah melahirkan, ibu yang mengalami demam tinggi lebih dari 2 hari, dan disertai keluarnya cairan (dari liang rahim) yang berbau, mungkin mengalami infeksi jalan lahir. Cairan Hang rahim yang tetap berdarah, keadaan ini dapat mengancam keselamatan ibu. Zat makanan yang dibutuhkan ibu hamil, yaitu:
1)      Energi, dihasilkan dari karbohidrat, protein, dan zat patinya. Protein. Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari biasa­nya.
2)      Protein hewani lebih besar dibandingkan protein nabati. Con­toh: ikan, daging, susu, dan telur harus lebih banyak dikonsumsi jika dibandingkan dengan tahu, tempe, dan kacang. Protein dapaa diperoleh dari susu, telur, dan keju. Tambahannya diperoleh dan gandum dan kacang-kacangan. Manfaat dari protein.
a)      Protein untuk membangun tubuh janin dimulai dari sebesar sehingga menjadi tubuh seberat 3,5 kg. 
b)      Protein digunakan untuk membuat ari-ari.
c)      Protein digunakan untuk menambah unsur dalam cairan darah­terutama haemoglobin dan plasma darah.
d)     Protein digunakan untuk pembuatan cairan ketuban.
3)      Vitamin.  
Ada beberapa jenis vitamin yang penting untuk ibu hamil. Jika ibu hamil sampai kekurangan vitamin, pembentukan sel-sel tu­buh anak akan berkurang. Anak dapat kurang darah, cacar bawaam kelainan bentuk, bahkan ibu dapat keguguran. Vitamin yang dibu­tuhkan oleh ibu hamil, yaitu B6, C, A, D, E, dan K.
4)      Kalsium, Mineral dan Zat lainnya
a)      Kalsium. Kalsium sangat penting karena dibutuhkan untuk pem­bentukan tulang. Apabila kekurangan kalsium, bayi yang dikan­dung akan menderita kelainan tulang dan gigi. Sumber kalsium yang tinggi diperoleh dari semua makanan yang berasal dari susu. seperti keju, es krim, dan kue. Selain itu, juga banyak terdapat pada kacang-kacangan dan sayuran berdaun hijau.
b)      Fosfor. Mineral ini dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Fosfor berhubungan erat dengan kalsium. Jika jumlahnya tidak seimbang di dalam tubuh, dapat terjadi gangguan. Gangguan yang paling sering adalah kram pada tungkai.
c)      Zat besi. Sel darah merah Ibu hamil bertambah sampai 30rc. Berarti, tubuhnya memerlukan tambahan zat besi. Setiap hari. ibu hamil membutuhkan tambahan 700-800 mg zat besi. Sum­ber makanan yang mengandung zat besi tinggi adalah hati. Oleh karena itu, ibu hamil perlu banyak mengonsumsi hati, daging. telur, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau. Kebutuh­an zat besi ibu hamil meningkat pada kehamilan trimester II dan III. Pada masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandal­kan dari menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup  mengandung zar besi.
d)     Zink, mineral, ini dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil, biasanya cukup dari makanan sehari-hari
e)      Fluor. Mineral floyr juga tidak banyak diperlukan.
f)       Yodium. Yosidum cukup diperoleh dari air minum dan sumber bahan makanan laut.
b.      Penyuluhan Kb  
Sebelum pemberian metode kontrasepsi, misalnya pil, suntik, atau KDR terlebih dahulu menentukan apakah ada keadaan yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu usaha untuk menciptakan kesejahtreraan adalah dengan memberi nasihat perwakinan, pengobatan kemandulan, dan memperkecil angka kelahiran (Depkes RI 1999). Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptak~ kesejahteraan ekonomi, spiritual, dan sosial penduduk Indonesia. Tujuan program KB adalah memperkecil angka kelahiran, menjaga kesehatan ibuanak, serta membatasi kehamilan jika jumlah anak sudah mencukupi. Peserta KB akan mendapat pelayanan dengan cara sebagai berikut.
1)      Pasangan usia subur yang istrinya mempunyai keadaan “ 4 terlalu”  yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu sering hamil, dan terlalu tua akan mendapat prioritas pelayanan KB.
2)      Peserta KB diberikan pengertian mengenai metode kontrasepsi de­ngan keuntungan dan kelemahan masing-masing sehingga ia dapat : menentukan pilihannya.
3)      Harus mendapat informasi mengenai metode kontrasepsi dengan keuntungan dan kelemahannya sehingga ia dapat menentukan pilihannya
4)      Harus dilakukan pemeriksaan fisik sebelum pelayanan KB diberikan kepada klien agar dapat ditentukan metode yang paling cocok dengam hasil pemeriksaannya.
5)      Harus mendapatkan informasi tentang kontraindikasi pemakai. berbagai metode kontrasepsi.
Kegiatan IM merupakan salah satu komponen dari pelayanan i;;-­sehatan reproduksi esensial (PKRE) yang dapat dilaksanakan di tiap tingkat pelayanan sesuai dengan kewenangannya, yaitu:
1)      Pelayanan di tingkat desa.
a)      Konseling KB.
b)      Pelayanan KB, kecuali implant dan metode operatif.
c)      Pertolongan pertama efek samping KB.
d)     Rujukan pelayanan KB.
2)      Pelayanan di tingkat puskesmas.
a)      Konseling KB.
b)      Pelayanan KB, sesuai dengan kemampuan.
c)      Pertolongan pertama komplikasi dan kegagalan KB serta penananganan efek samping KB.
d)     Rujukan pelayanan KB.
e)      Pembinaan pelayanan di tingkat Desa.
3)      Pelayanan di tingkat rujukan KB.
a)      Konseling KB.
b)      Pelayanan semua jenis metode KB.
c)      Penanganan komplikasi dan kegagalan KB serta penanganan efek samping KB.
d)     Penanganan kasus rujukan pelayanan KB.
e)      Pembinaan pelayanan di tingkat puskesmas.
4.      Pencatatan Kelahiran Dan Kematian Ibu/ Bayi
a.       Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1996 menunjukkan kecenderungan menurun. Estimasi AK yang dilakukan Biro Pusat Statistik adalah berdasarkan perhitungan dari data hasil sensus/survei (tentang rata-rata yang dilahirkan hidup menurut ibu).
Pada kurun waktu tahun 1967-1976 (9 tahun), penurunan AKB rata­rata per tahun adalah 3,2%, yaitu 145 per 1000 kelahiran hidup pada ta­hun 1967, menjadi 109 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1976. Untuk periode 1986-1992, penurunan AKB rata-rata per tahun adalah 4,1% yaitu 71 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 60 per 1000 kelahir­an hidup pada tahun 1992. Dari hasil proyeksi, terlihat bahwa AKB pada tahun 1992 sebesar 60 per 1000 kelahiran hidup yang cenderung menurun menjadi 54 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1996. Berdasarkan jenis kelamin, terlihat bahwa angka kematian pada bayi laki-laki tampaknya lebih besar dibandingkan bayi perempuan.
Pola penyakit penyebab kematian bayi dari SKRT tahun 1986 ber­beda dengan hasil SKRT tahun 1992. Perbedaan proporsi antara tahun 1986 dan 1992 ini mungkin disebabkan oleh cakupan sampel SKR.T 1986 yang hanya mencakup 7 provinsi, sedangkan pada tahun 1992 mencakup 37 provinsi. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi hasil SKRT ,ahun 1986 yang tertinggi adalah penyakit tetanus neonatorum (19,3%), sedangkan hasil SKRT 1992 adalah penyait ISPA (36%). Jika dibanding­~an hasil SKRT 1992 dengan hasil SKRT 1995, penyakit sistem pernapas­an menduduki urutan pertama, sedangkan gangguan pranatal naik dari .irutan kelima pada SKRT 1992 dan menjadi urutan kedua pada SKRT :995. Jika dibandingkan pola penyakit penyebab kematian bayi antara lawa-Bali dan luar Jawa-Bali, terlihat urutan tertinggi di Jawa-Bali cisebabkan gangguan pranatal (33,5%), sedangkan di luar Jawa-Bali cisebabkan penyakit sistem pernapasan.
b.      Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka kematian balita (0--4 tahun) adalah jumlah kematian anak usia C-4 tahun per 1000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat perm asalahan kesehatan anak dan faktor lain yang berpengaruh terhadap kese­atan anak balita, seperti gizi, sanitasi, penyakit menular, dan kecelakaan.
Estimasi angka kematian balita di Indonesia yang dihitung dari data iro Pusat Statistik, mengalami penurunan yang cukup berarti, yaitu an 111 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 81 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1993. Angka kematian balita tertinggi d Provinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000 kelahiran hidup), sedangkar Provinsi DKI Jakarta (4 per 1000 kelahiran hidup.  
Hasil SKRT 1995 menunjukkan 5 penyakit penyebab kematian. anak balita, yaitu sistem pernapasan (30,8%), gangguan pranatal (21,6%), diare (15,3%), infeksi dan parasit lain (6,3%), dan saraf (tetanus) (5,5%).
c.       Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesa daran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatar lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan (terutama untuk ibu hamil ibu waktu melahirkan, dan masa nifas). Angka kematian ibu sampai saal ini baru diperoleh dari survei terbatas seperti penelitian dan pencatatar pada 12 rumah sakit pendidikan (1977-1980) diperoleh AKI 370 per 100.00( kelahiran hidup. Penelitian oleh Universitas Padjadjaran di Ujung Berun€ (1978-1980) AKI 170, dan di Kabupaten Sukabumi tahun 1982 sebesar 450 dan hasil SKRT 1980 adalah 150 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil in relatif rendah karena survei tidak mencakup semua provinsi. Menurut hasi: SKRT tahun 1992, angka kematian ibu sebesar 425 per 100.000 kelahirar hidup. Hasil survei demografi Kesehatan Indonesia tahun 1994 menunjuk kan angka 390 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada hasil SKRZ 1995, angka kematian ibu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup.
d.      Angka Kematian Kasar (AKK)
Dari hasil sensus tahun 1971 dan 1980, SUPAS tahun 1967 dan 1985 terlihat bahwa angka kematian kasar cenderung menurun dan menurut hasil perkiraan BPS angka kematian kasar (AKK) pada kurun waktL 1985-1990 akan menjadi 7,9 per 1000 penduduk dan selanjutnya pade kurun waktu 1990-1995 menjadi sebesar 7,5 per 1000 penduduk. Penyakit penyebab kematian per 100 kematian hasil SKRT 1986 se. bagai urutan pertama adalah penyakit diare sebesar 12 per 1000 kema. tian, sedangkan dari hasil SKRT 1992 dan SKRT 1995 adalah penyakit sistem sirkulasi, yaitu sebesar 16 per 100 kematian tahun 1992 menjad 18,9 per 100 kematian tahun 1995. Sementara itu, dari hasil SKRT 1991: untuk daerah Jawa-Bali menunjukkan bahwa penyakit kematian utama adalah sistem sirkulasi (24,2 per 100 kematian). Penyakit sistem sirkulasi ini mencakup hipertensi, penyakit jantung iskemia, penyakit paru yang berkaitan dengan jantung, komplikasi penyakit jantung yang kausanya tidak jelas, dan penyakit serebrovaskular. Untuk daerah luar Jawa-Bali, menunjukkan bahwa penyakit penyebab kematian utama adalah sistem pernapasan (16,0 per 100 kematian) yang diikuti penyakit sistem sirku­lasi (14,3 per kematian) dan tuberkulosis (10,9%).
Untuk tahun 1995, pola penyakit penyebab kematian bukan penye­bab langsung secara nasional, berbeda dengan pola penyakit penyebab kematian pada rumah sakit umum kelas A, B, C maupun D. Secara nasi­onal dan menurut rumah sakit umum kelas B, penyakit serebrovaskular merupakan penyebab utama kematian. Pada rumah sakit umum kelas A, penyakit karena cedera dan keracunan merupakan penyebab utama, sedangkan pada rumah sakit umum kelas C dan D, penyebabnya adalah penyakit saluran napas bawah.
Jika dilihat pola penyakit pada tahun 1995, penyakit utama yang terbanyak secara nasional bukan merupakan penyebab utama yang men­dasari kematian. Untuk kasus penyakit terbanyak secara nasional, yaitu penyakit infeksi usus, penyakit karena cedera, dan keracunan di rumah sakit umum kelas A, komplikasi obstetri dan abortus di rumah sakit umum kelas B, sedangkan di rumah sakit umum kelas C dan D sama dengan tingkat nasional, yaitu penyakit infeksi usus.
5.      Progam Kesehatan lainnya
a.       Kesehatan
Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan  masyarakat untuk memelihara, meningkatkan, dan melindungi ke­sehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampua­serta pengembangan lingkungan sehat. Sasaran promosi kesehatan ada­lah individu, keluarga, masyarakat, dan petugas pelaksana program.
b.      Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin)
Tabulin merupakan institusi masyarakat dengan anggota para ibu hamil atau PUS (Pasangan Usia Subur) yang belum hamil, dengan bentuk ke­giatan yang berupa pengumpulan dana di lingkungan anggotanya, ma syarakat, atau subsidi dari pemerintah.
c.       Donor darah berjalan
Donor darah berjalan merupakan pendonoran darah secara bertahaa. beberapa kali, atau secara berangsur-angsur selama 3 bulan sekali agar mendonorkan darahnya ke PMI. Tujuan utama diadakannya donor darah adalah untuk membantu PMI dalam ketersediaan stok darah di PMI yang berkurang sejak terjangkitnya penyakit demam berdarah.
d.      Ambulans Desa
Ambulans desa merupakan sistem yang dikembangkan oleh peme­rintah, swasta, dan masyarakat untuk mengangkut ibu bersalin yang perlu dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas.
e.       Suami Siaga
program ini suami diharapkan suami siap : 
1)      Secara mental         : Ketika ibu menghadapi persalinan, siapkan mentalnya untuk memberikan dukungan atau semangat ke­pada istri.
2)      Secara fisik             : suami mempersiapkan dirinya untuk menjaga dan me­lindungi istrinya.
3)      Secara materil         : suami mempersiapkan dana untuk persalinan istrinya





DAFTAR PUSTAKA



Bari saifudin, abdul. 2002. buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Prof. Dr. Azwar, Azrul. MPH. 2002. asuhan persalinan normal. Jakarta : tim revisi edisi 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar