Dari IPpO

Selasa, 02 April 2013

PERKEMBANGAN KONSEP PROMOSI KESEHATAN DAN VISI PROMOSI KESEHATAN


PERKEMBANGAN KONSEP PROMOSI KESEHATAN DAN VISI PROMOSI KESEHATAN


A.    PERKEMBANGAN KONSEP PROMOSI KESEHATAN
Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dan konsep pendidikan kesehatan, yang berkembang sejalan dengan perubahan paradigm kesehatan masyarakat ( Public Healt ). Perubahan padigma kesehatan masyarakat terjadi antara lain akibat perubahan pola penyakit, gaya hidup kondisi kehidupan lingkingan kehidupan demografi dan lain – lain.
Pada awal perkembangannya, kesehatan masyarakat difokuskan pada factor – factor yang menimbulkan resiko kesehatan seperti udara, air, penyakit – penyakit bersumber makanan serta penyakit – penyakit yang buruk. Dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat. Sejak saaat itu, pendidikan kesehatan menjadi perhatian dan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat yang difokuskan kepada :
1.      Perilaku beresiko seperti : Merokok, Makanan rendah serat, dan Kurang gerak, Dll.
2.      Pelayanan kedokteran pencegahan
3.      Deteksi dini pencegahan.
Deklarasi Alam Ata ( 1978 ) menghasilkan strategi utama dalam pencapaian kesehatan bagi semua (Health For All ) melalui pelayanan kesehatan dasar( Primary Healt Care ). Salah satu komponen didalam pelayanan kesehatan dasar itu adalah pelayanan kesehatan, yang di Indonesia pernah juga disebut penyuluhan kesehatan. Namun dari pengalaman bertahun tahun pelaksanaan pendidikan ini, baik dinegara maju maupun dinegara berkembang mengalami berbagai hambatan dalam rangka pencapaian tujuannya, yakni mewujudkan prilaku hidup sehat bagi masyarakat. Hambatan yang paling besar dirasakan adalah factor pendukungnya ( Enabling factor ). Dari penelitian – penelitian yang ada, terungkap meskipun kesdaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan, namun praktek ( Practise ) tentang kesehatan atau prilaku hidup sehat masih rendah. Setelah dilakukan pengkajian oleh organisasi kesehatan dunia ( WHO ), Terutama dinegara – Negara berkembang ternyata factor pendukung atau sarana dan prasarana tidak mendukung untuk masyarakat hidup sehat. Oleh akrena itu WHO pada awal tahun1980an menyimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tidak mampu mencapai tujuannya apabila hanya memfokuskan upaya – upaya perubahan prilaku saja. Pendidikan kesehatan harus mencakup pula upaya perubahan lingkungan ( Fisik, Social, Budaya, Politik , Ekonomi, Sosial dsb )sebagai upaya penunjang atau pendukung perubahan prilaku tersebut. Sebagai perwujudan dari perubahan konsep pendidikan ini secara organisasi secara structural, maka pada tahun 1984, Divisi pendidikan kesehatan ( Health Education )didalam WHO diubah menjadi Divisi Promosi dan Pendidikan Kesehatan ( Divisi On Health Promotion And Education ). Sekitar hampir 16 tahun kemudian, yakni awal tahun 2000 ini Departemen Kesehatan RI baru dapat menyesuaikan Konsep WHO ini dengan merubah pusat penyuluhan kesehatan masyarakat ( PKM ) menjadi Direktorat Promosi Kesehatan ).
Dapat dikatakan bahwa promosi kesehatan adalah merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa yang lalu. Promosi kesehatan tidak hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya – upaya memfasilitasi perubahan prilaku.
Pada tahun 1986 di Ottawa, Canada, dilangsungkan konferensi  internasional promosi kesehatan yang menghasilkan piagam Ottawa ( Ottawa Charter ) yang menjadi acuan bagi promosi kesehatan, termasuk di Indonesia. Sesuai dengan piagam Ottawa, aktivitas promosi kesehatan adalah Advokasi ( Advocating ), Pemberdayaan ( Enabling ), dan Mediasi (Mediating).
Selanjutnya piagam Ottawa juga merumuskan lima komponen utama promosi kesehatan yaitu :
1.      Membangun kebijakan public berwawasan kesehatan ( Built Health Public Policy ), artinya mengupayakan agar para pembantu kebijakan diberbagai sector dan tingkatan administrasi mempertimbangkan dampak kesehatan dari setiap kebijakan yang dibuatnya.
2.      Menciptakan lingkungan yang mendukung ( Create Supportive Environtments ) artinya menciptakan suasana lingkungan ( baik fisik maupun social politik ) yang mendukung sehingga masyarakat termotivasi untuk melakukan upaya – upaya yang positife bagi kesehatan.
3.      Memperkuat gerakan masyarakat ( Streghthen community action ) artinya memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat agar lebih berdaya dalam upaya mengendalikan factor – factor yang mempengaruhi kesehatan.
4.      Mengembangkan ketrampilan individu ( Develop personal skill ) artinya mengupayakan agar masyarakat mampu membuat informasi, pendidikan dan pelatihan memadai. Upaya ini akan lebih efektiv dan efisien bila dilakukan melalui pendekatan tatanan ( setting ). Tatanan dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu tatanan dalam bentuk interaksi manusi dan tatanan dalam bentuk wilayah. Tatanan yang berdasarkan interaksi manusia adalah tatanan rumah tangga, tatanan institusi pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat – tempat umum dan tatanan sarana kesehatan. Sedangkan tatanan berdasarkan wilayah adalah tatanan kota/ kabupaten, tatanan kepulauan, lain – lain.
5.      Reorient pelayanan kesehatan ( Reorient Health Service ) artinya mengubah orientasi pelayanan kesehatan agar lebih mengutamakan upaya preventive dan promotivetanpa mengesampingkan upaya curative dan rehabilitative.
Berdasarkan piagam Ottawa tersebut dirumuskan strategi dasar promosi kesehatan yaitu: Empowerment, Soccial support dan advocacy, yang di indonesi ditejemahkan menjadi pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi. Pemberdayaan masyarakat ditujukan pada masyrakat   ( Khususnya individu keluarga atau kelompok ) agar berdaya dalam mengendalikan factor – factor yang mempengaruhi kesehatan. Bina suasana ditunjukkan kepada pembentuk opini dan pihak – pihak yang mempengaruhi opini di masyarakat seperti tokoh – tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan organisasi non pemerintah. Sedangkan advokasi ditujukan kepada pembuat keputusan dan penentu kebijakan public serta pihak – pihak yang berkepentingan ( Stakeholder ) lainnya.

B.     VISI PROMOSI KESEHATAN
Memperhatikan keadaan, masalah dan kecenderungan dalam analisis tersebut diatas, perlu ditetapkan visi promosi kesehatan nasional. Oleh karena promosi kesehatan merupakan bagian integral dari upaya untuk mencapai visi “Indonesia sehat 2010”, maka visi promosi kesehatan ditetapkan sebagai “Prilaku Sehat 2010”. Adapun yang dimaksut “Prilaku Sehat 2010” adalah keadaan dimana individu – individu dalam rumah tangga ( Keluarga ), Indonesia telah melaksanakan prilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) dalam rangka :
1.      Mencegah timbulnya penyakit dan masalah – masalah kesehatan lain.
2.      Menanggulangi penyakit dan masalah – masalah kesehatan lain.
3.      Memanfaatkan pelayanan kesehatan.
4.      Mengembangkan dan menyelenggarakan upaya kesehatan bersumber masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA


Fitriani, Sinta. 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar